tentang saya
Rabu, 17 November 2010
1. Nama saya
Nama saya Wilda Meutia Khalida. Biasa dipanggil dengan sebutan akrab ‘dhaw’. Tapi, pernah suatu ketika, saat saya merasa bosan mendengar panggilan itu, saya menyebut diri saya sebagai ‘dham’. Dan itu ternyata berpengauh juga terhadap lingkungan sekitar. So, temen-temen ada juga yang manggil dengan sebutan ‘dham’. Yaah, gak apa-apa lah, selama semua itu berarti ‘wilda’ kenapa tidak?
2. Tempat saya dilahirkan
Saya lahir di sebuah kampung yang tidak jauh dari gunung. Boleh jadi, kampung saya dikategorikan sebagai kampung yang terletak di ‘anak’ kaki gunung syawal. Karena kenapa? Itu karena, kaki gunungnya tidak jauh dari kampung saya.
3. Kampung Halaman saya …bisa juga disebut ‘riwayat alamat’…
Tumbuh besar di sebuah kampung di anak kaki gunung itu, menjadi kebanggaan tersendiri buat saya. Dengan letak yang sangat strategis, maka kampung saya banyak dikunjungi oleh para wisatawan asing dari luar daerah ‘desa’. Warga kampungnya juga ramah-ramah, baik hati dan tidak sombong. Mereka lebih cenderung untuk menggratiskan tiket wisata kunjungan ke “pasir dukuh”, (salah satu objek wisata di kampong saya, dengan wahana wisata yang luas, nyaman, serta bebas. (bebas dari polusi, maksudnya..))
“Kampung Halaman saya, Kampung Halaman impian.”
4. Bagaimana saya menurut anda
*saya yang jutek
Kurang dari seratus persen, orang yang tidak kenal dengan saya sering menyimpulkan bahwa saya adalah seorang perempuan yang jutek. Menurut hasil penelitian… hal ini wajar dialami oleh orang-orng yang tidak kenal dekat dengan saya, atau mungkin.. bagi orang yang tidak mau mengenal saya yang sebenarnya.
Tapi, hipotesis menyebutkan bahwa, “menyimpulkan sebelum mengetahui, meneliti, atau menilai adalah sesuatu yang kurang baik untuk kesehatan rohani.” Oleh karena itu, hasil riset menyimpulkan bahwa, “jika tak kenal maka tak… ta’aruf.”
*saya yang egois
Semua orang yang hidup di dunia ini, pasti memiliki kepentingan. Omong kosong namanya, jika seseorang dapat hidup tanpa memikirkan kepentingan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Karena hidup bukan hanya untuk makan, tapi hidup juga perlu sosialisasi.
Dalam posisi ini, kebijakan pikiran kita untuk memilih, memilah, dan memutuskan sangat diperlukan sebagai bentuk dari keseimbangan dan pertanggung jawaban. Oleh karena itu, pikirkanlah sebijak mungkin segala sesuatu yang terjadi dan ukurlah seteliti mungkin segala sesuatu yang akan dilakukan. Kemudian, timbanglah secara adil dan tidak memihak.
Putuskan hal yang benar-benar baik menurut kita pribadi. Dan, dari sinilah munculnya suatu permasalahan. Karena apa? Karena, sesuatu yang menurut kita benar, belum tentu benar untuk orang lain. Satu lagi..
Posisi yang baik untuk kita, belum tentu dapat memposisi baikkan orang lain. Inilah yang menjadi dasar keegoisan seseorang menurut pendapat “orang lain”
*saya yang centil?
Belum pernah lho, saya dibilang centil..
*saya yang baik?
Beberapa orang, kurang dari satu juta orang Indonesia.. bilang kalau saya ini orang yang baik.
Baikbaik saja.
*saya yang gaje
Terkadang, bingungnya pikiran dalam memikirkan, bimbangnya hati dalam memilih, dan sulitnya mulut untuk memutuskan yang “baik” dan yang “benar” dapat menjadikan seseorang menjadi gaje.
*saya yang lebay?
Jarang deh mendengar orang bilang seperti itu sama saya.
*saya yang pendiam
Daripada ngoceh ga jelas, lebih baik kunci mulut.
*saya yang dewasa
Jika anda berpikiran seperti ini tentang saya, saya pasti akan mengucapkan terima kasih kepada anda.
*saya yang kekanak-kanakan?
Anak-anak itu unik. Menjadi seperti mereka terkdang lebih nyaman daripada menjadi dewasa. Kebebasan yang diimpikan bisa kita raih dengan cara ini, bhkan keceriaan yang mengundang lebarnya mulut pertanda bahagia. “saya sudah membuktikan, dan.. selamat mencoba”
*saya yang? yang? yang? yang? menurut anda?
“kirim kritik dan saran anda mngenai saya dengan cara kirim surat kaleng kepada saya. Hehehe..”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar